Semua biasa saja tanpa kau besar-besarkan. Ya, biasa saja.
Hari terus berjalan, dan semua normal adanya. Matahari tetap bersinar diatas kepala, bumi tak melewatkan sekali pun putarannya.
Namun sesuatu berlebihan.
Membuat mendung menutup matahari. Bukan, bukan hujan. Namun matahari berpindah dari atas kepala ke dasar kaki.
Bumi mendadak melewatkan sepersekian putarannya. Kalender seolah menghilangkan beberapa tanggalnya.
Berlebihan sekali..
Sayangnya, setiap saat aku menatapnya, aku merasakan segala sesuatu berlebihan di sekitarku. Atau aku yang berlebihan?
Senin, 17 Januari 2011
Kenapa Harus Ada Bimbang?
Kenapa harus ada bimbang? Jika harus mengambil satu dari seribu kemungkinan yang tercipta.
Aku benci bimbang. Aku tak suka.
Kenapa harus ad bimbang? Jika tercipta orang berani di dunia ini?
Haruskah bimbang membayangi hari?
Atau hanya mengejarku untuk bersenang-senang saja?
Bimbang.
Suatu hari aku melangkah pasti. Di titik tengah aku merasa salah langkah.
Aku kembali menjumpai bimbang itu. Haruskah aku selalu bertemunya?
Aku tak tau. Dan tak mau.
Kenapa harus ada bimbang..
Aku benci bimbang. Aku tak suka.
Kenapa harus ad bimbang? Jika tercipta orang berani di dunia ini?
Haruskah bimbang membayangi hari?
Atau hanya mengejarku untuk bersenang-senang saja?
Bimbang.
Suatu hari aku melangkah pasti. Di titik tengah aku merasa salah langkah.
Aku kembali menjumpai bimbang itu. Haruskah aku selalu bertemunya?
Aku tak tau. Dan tak mau.
Kenapa harus ada bimbang..
Satu Koma Lima Empat.
Satu koma lima empat.
1,54.
Tak berarti. Mengukur kemampuan. Mengukur masa depan.
Namun serasa membunuhku.
1,54.
Tak berarti. Mengukur kemampuan. Mengukur masa depan.
Namun serasa membunuhku.
Sabtu, 15 Januari 2011
Amalia Nauvali dan Reviana Yosita.
Sepertinya baru akan menginjak sebulan aku mengenalmu. Berawal dari melarikan diri akan masalah pada Desember itu, aku menjadi begini dekat denganmu.
Berawal dari sepele, menjadi dalam.
Mungkin aku berlebihan menganggapmu. Namun suatu keajaiban dapat bertemu dengan kalian berdua.
Menjadikan aku lebih mengerti makna, dan tertawa. Mungkin aku memang naif. Tapi beginilah sebuah warna itu..
Aku tak menyalahkan kedatanganmu (atau lebih tepatnya aku yang datang). Karena aku merasa hidup.
Sayang, kita terlambat bertemu..
Coba bayangkan jika aku bertemu denganmu lebih awal, hidupku tak akan sesemrawut ini dari dulu.
Hidupku akan lebih terkontrol, dan belajar menganggap biasa saja hal yang tak biasa dan membuat sakit dalam hidup. Kau seperti perban dalam luka. Bukan seperti garam dalam luka, sayang..
Jangan pergi.
Aku sudah cukup lelah mencari sosok itu.
Tinggallah disini bersama ku, selama mungkin kau bisa.
Terimakasih..
Berawal dari sepele, menjadi dalam.
Mungkin aku berlebihan menganggapmu. Namun suatu keajaiban dapat bertemu dengan kalian berdua.
Menjadikan aku lebih mengerti makna, dan tertawa. Mungkin aku memang naif. Tapi beginilah sebuah warna itu..
Aku tak menyalahkan kedatanganmu (atau lebih tepatnya aku yang datang). Karena aku merasa hidup.
Sayang, kita terlambat bertemu..
Coba bayangkan jika aku bertemu denganmu lebih awal, hidupku tak akan sesemrawut ini dari dulu.
Hidupku akan lebih terkontrol, dan belajar menganggap biasa saja hal yang tak biasa dan membuat sakit dalam hidup. Kau seperti perban dalam luka. Bukan seperti garam dalam luka, sayang..
Jangan pergi.
Aku sudah cukup lelah mencari sosok itu.
Tinggallah disini bersama ku, selama mungkin kau bisa.
Terimakasih..
Langganan:
Postingan (Atom)

